Rabu, 24 November 2010

0 CINTA di Kesempatan KE-2

Entah apa yang dilakukan Dilla di masa lalu hingga ia merasakan sakit yang teramat pedih, Rino kini telah tiada, ia pergi membawa cintanya jauh kelangit dan takkan pernah kembali. Dilla sangat terpuruk saat ini, pelajaran sekolahnya pun kini terabaikan, nilai yang terus turun mengakibatkan 3 buah surat panggilan dari sekolah di alamatkan padanya. Sekali duakali orang tua Dilla masih bisa menerimanya, namun panggilan ini sudah sampai yang ke 3 kalinya, orang tua Dilla makin Gerang, dan mengambil keputusan yang tak pernah di bayangkan sebelumnya oleh Dilla.
“DILLA!!!, BUNDA SLAMA INI SUDAH SABAR NGADEPIN SIFAT DILLA INI, . . . Bunda tau, Dilla terpukul dengan kepergian Rino, tapi bukan gini caranya”.
Tutur Bunda pada Dilla, malam itu.
“maafin Dilla, Dilla juga g’ mau kayak gini, . .. tapi Dilla g’ bisa tahan Bun, ”.
balas Dilla dengan meneteskan air mata.
“Bunda paham, …pasti ini berat buat Dilla, tapi apa Dilla g’ kasian sama Bunda? 6 tahun sudah Bunda kerja keras siang-malam buat Dilla, apa Dilla juga g’ kasian sama Rino? Rino juga pasti sedih liat Dilla kayak gini”.
“Dilla minta maaf”.
Dilla masih juga menangis dalam dekapan Bundanya, seakan ia merasa kalau Bundanyalah hidupnya.
“bunda cari sekolah baru besok”. Ucap Bunda Dilla memotong pembicaraan.
“terserah Bunda”. Ucap Dilla tak berdaya.

1 bulan sudah Dilla belajar di sekolah barunya, namun tak ada satupun anak yang mau berteman dengannya, kecuali Indi, hanya dia satu-satunya anak yang mau berteman dengan Dilla.
“liat dech, .. . liat dech, . ..patung kelas kita dateng, HORMAT GRAK!!!”. Itulah perlauan yang harus di terima Dilla tiap harinya, ejekan demi ejekan terun bersarang padanya. Walau begitu Dilla masih saja diam dan terus diam, seakan membenarkan perkataan teman-temannya sekelasnya itu.
“udah, .. udah,. . kalian kalian g’ bosen ngeledekin Dilla terus”. Bela Indi kala itu.
“hah, . .. . hei temen-temen pahlawan ksiangannya dateng tuh, . .. . HUUUUUUUUUU”.
Kata salah seorang anak dengan di ikuti sorakan anak sekelas yang memekikkan telinga.
Entah mengapa Dilla bisa mendapatkan teman sebaik Indi, yang selalu ada dan melindunginya dari berbagai kepedihan yang menimpanya di kelas.
Sejak saat itu Dilla dan Indi menjadi teman baik, walaupun dalam setiap komunikasi Dilla kebanyakan diam dan bicara dengan bahasa yang singkat dan dingin, namun Indi bisa menerimanya dengan baik.
Hingga suatu hari,
“eh, .. Dill qm liat cowok itu dech”.
“hemmm”. Dilla melihatnya sekilas dan lansung mengalihkan pandangannya.
“dia ganteng & keren banget z? ? ? tau g’ dia t ank XI-IA2 lo, . . .ih, . . jd pengen, . . .”. tannya Indi yang masih terpesona dengan kakak kelasnya itu.
“qm suka? ? ?”.
“kyknya gitu dech, . . .abisnya dia perfect banget”.
Dilla sama sekali gak tertarik dengan apa yang Indi bicarakan, dan membiarkan Indi bercerita sendiri, sementara Dilla asik dengan IPODnya.
Tapi suatu hari entah mengapa Dilla merasakan ada sesuatu yang aneh terjadi pada dirinya.
“ada apa sama aku, . . . kenapa tiap melihat cowok itu, aku takut melihat matanya, dan aku merasa aneh tiap kali cowok itu berdiri tepat di depanku, dadaku sesak, pikiranku g’ jelas, dan reflek ngalihin pandangan kearah yang g’ jelas, apa yg terjadi padaku, . .. “. Renung Dilla dalam hati.
“hei, Dill!!!!!”. Teriak Indi sambil menepuk bahu Dilla yang masih bengong.
“e, .. .copot!!!!!!!!!”. teeriak Dilla kaget.
“sory Dill, . . aku g’ tau kalo kamu bakal sekaget itu, Dill, . . .. td aku berpapasan sm ka’ Oktra di depan, seneng banget aku Dill, ihhhhhhhhh ,. .gemes, . .. ”. Indi bercerita sambil mencubit pipi Dilla, hingga ia kesakitan.
“Oktra? ? ?”.
“iya, Oktra cowok yang aku critain ke kamu kemaren”.
“ jadi namanya Oktra”. Ucap Dilla sambil tersenyum, entah Indi melihatnya atau tidak.
Berbeda dengan hari sebelumnya, sepulang sekolah hari ini raut muka Dilla terlihat sangat ceria, seakan ia lupa akan kesedihannya.
“gimana sekolahnya sayang? ? ?” tannya Bunda Dilla.
“Bunda, kok Bunda di rumah? ? ?”.Dilla kikuk & malah bertanya balik pada Bundanya. Setelah mencium pipi Bundanya Dilla berlari kearah kamar sambil meloncat-loncat kecil.
“semoga ini perdanta baik”. Harap Bunda Dilla.

3 minggu telah berlalu. Pagi ini sangat cerah, Dilla berangkat sekolah pagi-pagi sekali, wajar saja soalnya hari ini kelas Dilla ada pelajaran olahraga, dan ia tidak mau terlambat. Ada yang menyita pandangan mata Dilla saat ia dan 2 orang temannya sedang memasang tali untuk persiapan olahraga, terlihat ada tim basket putra sedang berlatih di lapangan sebelah. Dan,
“JEDAKKKK”. Sebuah bola basket melayang dan mengenai kepala Dilla.
“AU!!!!!!!”. spontan Dilla berteriak.
“kamu g’ pa-pa? ? ?” tannya salah seorang pemain basket yang berlari ke arahnya.
“g’ pa-pa”.jawab Dilla dengan memegangi kepalanya sambil menengok kearah cowok itu Dilla sama sekali tak menyangka,
“kak Oktra, .. . “. Dia sangat terkejut dan tak tau apa yang harus ia kakukan.
“kamu ngomong apa barusan? ? ?”. Tanya Oktra.
“ g’, . . g’ penting”. Jawab Dilla.
Dillapun secepat kilat meninggalkan Oktra.
"cewek aneh”.gumam Oktra heran.
“hei, .. .Tra sampe kapan berdiri di situ”. Teriak Erieck menyadarkannya. Oktra memulai kembali permainannya dan Dilla melirik Oktra dengan muka memerah.
“ya, . . Tuhan, . .. ia begitu dekat dan nyata, tapi Indi, . . .”. lamun Dilla.

Sejak kejadian itu Oktra semakin penasaran siapa cewek aneh yang di temuinya tadi. Hingga akhirnya Oktra dan Dilla menjadi semakin dekat. Seketika masalah mulai bermunculan, Dilla telah lupa kalau Indi juga menyukai Oktra. Dilla merasa bersalah tapi ia juga tidak bisa membohongi perasaannya sendiri. Entah Indi tau dari mana, hingga ia marah besar terhadap Dilla.
“PENGHIANAT!!!!!!!, LO TAU GUE SUKA SAMA OKTRA, LOE TEGA!!!!!!! Kenapa diem. JAWAB!!!!!!!!!!”. Dengan kemarahan yang tak terkendali Indi membentak teman baiknya di depan kelas Oktra.
“Bro, . .lo ikut gue sekarang, ini gawat banget”. Ajak Erieck.
“ada masalah lagi Ric? ? ?”. Tanya Oktra.
“bukan, . . ini lebih seru, . . .hot, . .. dan, . . . ah klamaan ikut gue sekarang”.
“ liat Tra 2 cewek itu”.
“ loe ngapain ajak gue kesini, balik ah”.erieck berusaha memperlihatkan kejadian itu pada Oktra, namun
“ biariN aja”.
“gundulmu, mereka brantem ngerebutin lo”.
“gue g’ peduli Ric cabut yuk”.kata Okta pada Erieck di sela-sela debatnya.

Haripun berganti, hubungan pertemanan Dilla dan Indi kini tak seharmonis dulu lagi setelah kejadian panas kemaren.
“CEWEK GATEL”. Sindir Indi dengsn sinis.
“loe kenapa? ? ?”.
“G USAH BANYAK TANYA”. Dan,
“BRAKKKKKKKK”. Kaki Indi menendangan meja dan mengenai tubuh Dilla hingga ia terhempas jauh dan jatuh. Belum puas dengan tendangannya, Indi menghampiri Dilla dan menjambak rambut panjangn Dilla.
“AUHHHHHH”. Teriak Dilla dengan nada kesakitan. Tak lama kemudian Oktra yang mendengar teriakan itu, lansung menghampiri arah suara berasal.
“UDAH CUKUP!!!!!!!!!!!”. Bentak Okta sambil tersengah-sengah.
“NGAPAIN RIBUT GARA-GARA GUE!!!!!!!”. Oktra semakin marah.
“ LO, CUKUP LEPASIN TANGAN LO”.secepan kilat tangan Oktra menggapai tangan Indi, dan menghempaskannya dengan kasar, seakan Oktra tak mengijinkan ada seorangpun yang menyakiti Dilla.
“perhatian, buat semua orang yang ada di ruang ini, GUE MAU NGUMUMIN 1 HAL,
GUE OKTRA HARI INI, DETIK INI, sebenarnya, . .. GUE MENYUKAI SAMA CEWEK ITU”.
Dengan tegas dan tanpa sedikitpun rasa malu Oktra menyuarakan isi hatinya, sambil menunjuk kearah Dilla.
“HAH, . .. CEWEK ITU, . .. DILLA”.Semua anak terperangah tak percaya dengan apa yang di ungkapkan Oktra.
“kamu”. Dilla sangat tak percaya dengan apa yang ia dengar, dengan rambut acak-acakan dan pipi lebam akibat tamparan, ia bangkit dari tempat jatuhnya.
“kak perasaan itu, . . .
Sebenarnya aku juga merasakan hal yang sama”. Mendengar pernyataan Dilla Oktra mendekat dan menggapai tangan Dilla lalu memeluknya dengan erat seakan dalam ruangan itu hanya ada mereka berdua.

Dilla telah menemukan pengganti Rino, yang bisa menemani dan melengkapi hari-harinya, sedangkan Indi, ia sadar saat ia menginginkan Oktra yang ia cari bukan cinta namun hanya kepopuleran belaka.

Dan ternyata keputusan yang di ambil Bunda Dilla benar, dengan memindahkan sekolahnya, kini Dilla lebih bisa menerima keadaan yang dulu pernah menghantamnya dengan dahsyat. Terbukti saat ini Dilla sudah bisa tersenyum menyapa lembaran baru yang ada di hadapannya. Dilla menyadari sekarang ia tidak sendirian lagi, kini ada Oktra di sisinya.

0 komentar:

Poskan Komentar